Saturday, 30 January 2016

Tips Berkendara: Mengemudikan Mobil Secara Aman

loading...
loading...
Berapa kilometer Anda mengemudikan mobil setiap harinya? Amankah cara Anda berkendara? Sadarkah bahwa cara Anda berkendara dapat berpengaruh pada keselamatan diri dan orang lain? Kalaupun Anda tidak perduli dengan keselamatan sendiri (sungguhkah?) setidaknya Anda harus memperdulikan keselamatan anggota keluarga dan orang lain.

Baca Juga: Kapan Memeriksa & Mengganti Komponen Kendaraan Anda? 

Tulisan ini akan membahas mengenai beberapa teknik mengemudi yang aman.  Teknik ini dapat Anda pelajari pada berbagai lembaga pelatihan mengemudi yang mengajarkan "Safety Driving" maupun "Defensive Driving". Silakan mencari di Internet mengenai lembaga mana saja yang menyediakan pelatihan tersebut apabila Anda berminat untuk memperbaiki cara Anda mengemudikan mobil.

Periksalah Kendaraan Anda

Pastikan kendaraan Anda laik jalan setiap sebelum berkendara.  Ya, betul setiap sebelum berkendara dan bukan hanya seminggu sekali atau bahkan hanya pada saat kendaraan Anda di servis di bengkel. Berapa kali Anda dibuat kesal di jalan raya akibat ada kendaraan yang mogok dan menghalangi laju kendaraan lainnya? Jangan sampai Anda sendiri yang membuat kesal orang lain akibat nekat melajukan kendaraan yang tidak laik jalan. 

Pemeriksaan kendaraan yang dimaksudkan tentunya bukan pemeriksaan komplit khas bengkel. Cukup pastikan beberapa komponen inti kendaraan yang terlihat atau dapat diuji oleh Anda sendiri. Ban adalah salah satu komponen yang penting, pastikan tekanan ban sesuai spesifikasi dan dalam keadaan laik pakai. Buka kap mobil Anda sebentar, pastikan bahwa seluruh karet dalam kondisi baik (fan-belt, v-belt, dll.). Cek air radiator, oli-oli, dan air wiper apakah sudah perlu ditambah atau bahkan diganti? Selanjutnya lakukanlah cek lampu lem, headlamp, dan lampu-lampu lainnya. Sesaat sesudah berada di jalan dan dalam kecepatan rendah, coba lakukan pengereman untuk memastikan rem berfungsi dengan baik. Keseluruhan langkah ini tidak akan memakan waktu lebih dari lima menit tetapi dapat mengurangi resiko selama di jalan raya.
Pastikan Kelengkapan Dokumen Kendaraan

Hal ini tentunya tidak berdampak langsung pada keselamatan pengemudian. Tetapi Anda tentu tidak mau STNK atau SIM Anda tertinggal ketika ada pemeriksaan di jalan. Selain itu, dalam setiap insiden (amit-amit) yang terjadi maka pihak yang berwenang akan selalu memastikan bahwa Anda memiliki dan membawa surat-surat yang diperlukan sebagai kelengkapan mengemudi. Pastikan Anda membawa STNK dan SIM yang masih berlaku!

Posisi Duduk

Duduklah dalam posisi senyaman mungkin karena begitu mobil berjalan sedikit sekali atau hampir tidak ada kesempatan untuk memperbaiki posisi duduk Anda tanpa mempengaruhi keselamatan pengemudian. Julurkan kaki kiri hingga menyentuh lantai mobil. Jangan sampai kaki menekuk karena akan melelahkan; di lain pihak, jangan terlalu jauh sehingga Anda kaki kesulitan menjangkau pedal. Hal ini berlaku baik untuk mobil manual maupun matik; karena posisi kaki kiri akan sejajar dengan kaki kanan.



Untuk mobil yang dapat diatur ketinggian lingkaran kemudinya (setir), atur ketinggiannya agar tidak menghalangi panel speedometer dan RPM yang berada di balik kemudi. Walaupun begitu, beberapa mobil memiliki panel di tengah-tengah sehingga tidak terpengaruh ketinggian lingaran kemudi.
Sesudah lingkaran kemudi berada pada ketinggian yang tepat, letakkan pergelangan tangan di puncak kemudi. Pada posisi tangan seperti inilah Anda mengatur posisi sandaran kursi. Posisi sandaran kursi diatur sedemikian rupa sehingga memberikan tumpuan yang nyaman untuk punggung Anda. 

Posisi Sandaran Kepala (headrest)

Saat ini, kebanyakan mobil menyediakan sandaran kepala  yang dapat diatur. Atur ketinggian sandaran kepala agar sejajar dengan kepala Anda. Jangan posisikan sandaran kepala di bawah maupun di atas kepala Anda karena fungsinya tidak akan efektif dan dapat membahayakan. Jangan sekali-sekali melepaskan sandaran kepala dengan alasan tidak nyaman atau terlalu tinggi/rendah.
Sandaran kepala akan melindungi leher ketika mobil Anda ditabrak dari belakang oleh kendaraan yang lebih cepat. Tanpa sandaran, ketika terjadi tabrak belakang kepala akan terhentak ke belakang dan mematahkan batang leher Anda. Mengerikan bukan? Kejadian seperti ini dapat terjadi ketika mobil yang berhenti ditabrak oleh kendaraan lain yang hanya melaju dengan kecepatan 30km/h!

Baca juga: Pengalaman Menginap di Taman Safari Lodge Hotel Cisarua   


Gunakan Sabuk Pengaman dengan Benar 

Beberapa orang kadang meremehkan fungsi sabuk pengaman dan menggunakannya supaya tidak diberhentikan oleh polisi di jalan. Tahukah Anda bahwa kendaraan yang berhenti mendadak dari kecepatan 40km/h dapat melontarkan seluruh penumpangnya (baik yang duduk di depan maupun belakang) ke luar jendela?

Seluruh penumpang, baik yang duduk di depan maupun di belakang sebaiknya menggunakan sabuk pengaman (walaupun di Indonesia sampai saat ini hanya penumpang yang duduk di bagian depan, termasuk pengemudi, yang diwajibkan mengenakan sabuk pengaman).

3-point Seat belt
Upayakan untuk menggunakan 3-points seat belt. Sabuk pengaman yang memiliki 3 titik tumpuan ini akan membagi beban hentakan akibat tabrak depan pada 2 bagian tubuh yang paling kuat, yaitu panggul (pelvis) dan  dada (chest). Sabuk pengaman jenis ini cukup umum ditemukan baik di deretan pengemudi (depan) maupun belakang pada mobil-mobil di Indonesia. 

Walaupun begitu, beberapa mobil yang menyediakan bangku tengah umumnya masih menggunakan 2-points seat belt. Sabuk pengaman jenis ini hanya berupa sabuk yang melingkari pinggang penumpang dan akan membebankan seluruh hentakan pada bagian panggul penumpang. Tentunya, hal ini akan cukup menyakitkan. Walaupun begitu, sabuk pengaman jenis ini masih dapat memberikan perlindungan yang dibutuhkan daripada tidak memakai sabuk pengaman sama sekali.

Dalam menjalankan tugasnya meredam hentakan akibat tabrakan dari arah depan, sabuk pengaman akan menyakiti penumpang. Sedikit banyaknya rasa sakit yang ditimbulkan bergantung seberapa kuat benturan yang dialami. Walaupun begitu, hal ini masih jauh lebih baik daripada terlempar (amit-amit) ke luar jendela yang dampaknya tidak dapat diperkirakan dan kemungkinan besar mematikan.

Baca juga: Pengalaman Berwisata ke Taman Bunga Wiladatika Cibubur

Mengingat fungsinya yang sangat vital, lakukanlah pengecekan pada sabuk pengaman Anda. Tariklah secara mendadak untuk memastikan sabuk pengaman masih memberikan efek redaman. Selain itu, pastikan kondisi sabuk dalam keadaan baik dan tidak cacat/robek. Penggunaan assesori yang ditempelkan pada sabuk pengaman sebaiknya dihindarkan karena benda yang tampaknya tidak akan melukai pada keadaan normal akan berubah menjadi senjata pada saat terjadi benturan keras. 

Selain itu, gunakan sabuk pengaman dengan benar. Bagian atas sabuk pengaman (pada 3-point seat belt) harus menyilang di dada. Bagian bawah sabuk pengaman harus berada di bawah perut, cukup rendah di bagian pinggul. Ibu hamil harus memastikan bahwa sabuk pengaman berada di bawah perut dekat dengan pinggul dan bukan melingkari perut. Sabuk pengaman yang digunakan cara pada Ibu hamil dapat mengakibatkan kematian pada bayi yang dikandungnya ketika terjadi hentakan yang keras; karena mungkin hentakan akan melukai kandungan dan membahayakan bayi di dalamnya.

Airbag/Kantung Udara/SRS
 
Di masyarakat beredar informasi yang salah bahwa airbag pada mobil dapat menggantikan fungsi sabuk pengaman. Airbag alias kantung udara juga dikenal sebagai Secondary (Supplementary) Restraint System. Artinya, fasilitas ini adalah suplemen/pelengkap dari fasilitas keamanan lain. Airbag tidak dapat menggantikan fungsi sabuk pengaman, tetapi melengkapinya. Fungsi airbag tidak akan efektif sama sekali apabila penumpang tidak menggunakan sabuk pengaman. 

Baca juga: Pengalaman Berwisata ke Jendela Alam Lembang



Atur Kaca Spion

Atur kaca spion kiri dan kanan dengan aturan 1/3 dan 2/3. Artinya, 1/3 bagian kaca memantulkan body mobil bagian bawah dan 2/3 memantulkan bagian luar belakang. Pengaturan seperti ini dapat meminimalkan blind spot. Untuk pengaturan kaca spion tengah, pastikan Anda dapat melihat dengan bebas ke arah belakang. Jangan sampai pandangan Anda terhalang kepala penumpang atau barang-barang yang disusun terlalu tinggi di bagian belakang mobil. Hindari penggunaan stiker yang dapat menghalangi pandangan spion.

 
Posisi Tangan pada Kemudi

Ketika Airbag/SRS belum terlalu dikenal, aturan yang lazim digunakan untuk posisi kedua tangan pada lingkar kemudi membentuk Pk 10.10. Artinya tangan kiri berada pada jam 10 dan tangan kanan berada pada menit ke 10. 

Pada mobil dengan Airbag/SRS pada sisi pengemudi (diletakkan di bagian tengah lingkar kemudi), posisi tangan Pk. 10.10 dapat membahayakan pengemudi apabila Airbag/SRS meledak karena tangan akan terlontar tepat ke arah muka dan dapat melukai baik tangan maupun muka pengemudi. 

Baca juga: Gerhana Matahari Total di Indonesia

Pada mobil dengan Airbag/SRS posisi tangan yang dianjurkan adalah Pk. 9.15, artinya tangan kiri berada pada jam 9 sementara tangan kanan berada pada menit ke 15. Dengan posisi tangan seperti ini, apabila Airbag/SRS meledak maka tangan akan terlempar ke atas dan tidak akan mengenai muka pengemudi.

Untuk mengantisipasi ledakan Airbag/SRS pada saat terjadi kecelakaan, sebaiknya Anda tidak menggunakan perhiasan seperti cincin atau gelang selama mengemudi. Perhiasan tersebut bisa berubah menjadi senjata yang mematikan apabila terlontar dengan kecepatan tinggi akibat ledakan Airbag/SRS.

Jaga Jarak Aman

Patokan jarak aman dengan kendaraan di depan Anda adalah 4 detik. Ya betul, patokan ini tidak menggunakan satuan jarak tetapi menggunakan satuan waktu. Hal ini disebabkan karena jarak aman ditentukan oleh seberapa cepat mobil Anda berhenti ketika ada suatu kejadian yang membutuhkan pengereman mendadak. Empat detik akan memberikan waktu 1 detik untuk otak kita menginstruksikan pengereman, 0.2 detik untuk mekanisme rem merespon injakan kaki kita di pedal rem, dan kurang lebih sekitar 2 detik lagi agar kendaraan Anda berhenti (total 3.2 detik dibulatkan menjadi 4 detik) pada kecepatan sekitar 100km/h. Dengan demikian, apabila mobil Anda melaju lebih cepat dari 100km/h, maka antisipasi waktu untuk menghentikan kendaraan akan lebih dari 4 detik. 
Bagaimana cara mengukur waktu dengan kendaraan di depan Anda? Caranya mudah saja, tentukan patokan yang baru saja dilewati kendaraan di depan Anda, sebut saja tiang lampu. Ucapkan dalam hati 1001, 1002, 1003, 1004. Pada saat Anda menyebutkan 1004, maka mobil Anda harus berada di belakang atau tepat pada patokan tiang lampu yang dilalui oleh kendaraan di depan Anda 4 detik yang lalu. Apabila sebelum 1004 mobil Anda sudah melewati patokan tersebut, segera kurangi kecepatan dan hitung ulang jaraknya.

Pengucapan 1001, 1002, 1003, 1004 (beberapa instruktur mengemudi menggunakan 1 dan 1, 1 dan 2, 1 dan 3, 1 dan 4)  masing-masing setara dengan waktu kurang lebih satu detik. Jangan menggunakan stop watch atau jam dalam menghitung jarak tersebut karena dapat memecah konsentrasi pengemudian yang malah dapat membahayakan.

Baca juga: Membasmi Nyamuk Penyebar Virus Zika



Menyusul Secara Aman

Sebelum mulai menyusul, pastikan kondisi di samping kanan kendaraan Anda aman dengan melihat spion dan menengok ke samping kanan. Mengapa harus menengok? Apakah tidak cukup dengan kaca spion saja? Menengok ke samping kanan diperlukan untuk memastikan tidak ada kendaraan pada area blind spot yang tidak terpantau oleh kaca spion.

Setelah yakin semuanya aman, hidupkan lampu sein kanan dan tetap jaga jarak dengan kendaraan yang akan disusul. Jangan langsung berpindah jalur begitu lampu sein dinyalakan. Ingat, lampu sein adalah untuk memberi indikasi bahwa Anda akan berpindah jalur. Beri kesempatan mobil di belakang dan di depan Anda untuk memahami maksud Anda. 

Pastikan kendaraan Anda mampu untuk menyusul. Antisipasi tanjakan, lubang, polisi tidur, atau rintangan lainnya yang dapat menghambat upaya Anda untuk menyusul. Usahakan putaran mesin pada torsi maksimum atau di kisaran 2000-3000 RPM (berbeda-beda untuk setiap mobil, kenalilah pada RPM berapa mobil Anda terasa bertenaga). 

Tekan pedal gas dan berpindah jalurlah secara halus. Pastikan kecepatan Anda memadai untuk menyusul mobil di depan Anda dalam waktu yang singkat. Batalkan upaya Anda menyusul apabila mobil di depan Anda malah mempercepat laju kendaraan untuk mengimbangi upaya Anda menyusul. Hal ini menunjukkan "itikad" yang kurang baik dari mobil di depan Anda. Apabila Anda terpancing, bukan tidak mungkin akan terjadi kecelakaan yang fatal. Hindarilah kondisi semacam ini di jalan raya.

Setelah selesai menyusul, hidupkan sein kiri untuk memberi tanda pada mobil yang disusul bahwa Anda akan kembali ke jalur semula. Pastikan jarak aman dengan kendaraan yang disusul sudah tercapai dengan melihat spion tengah sebelum Anda berpindah ke jalur semula

Jangan kurangi kecepatan Anda dan berpindahlah ke jalur semula secara halus dan perlahan. Antisipasi reaksi dari mobil di belakang Anda yang mungkin akan mencoba menghalangi dengan cara mempercepat lajunya. 
Pastikan juga bahwa jarak mobil Anda dengan kendaraan di depan tetap terjaga selama proses kembali ke jalur semula. Apabila tidak memungkinkan untuk kembali ke jalur semula, tetaplah pada jalur dimana Anda menyusul dan atur jarak yang cukup dengan mobil di depan Anda. Tunggulah kesempatan berikutnya untuk kembali ke jalur semula.
Baca juga: Menjajal "Ice" Skating Sky Rink di Cibubur Junction

Sumber:
Majalah Intisari 2008
-  Modul training Defensive Driving JDDC
-  Pengalaman Pribadi
loading...
loading...

No comments:

Post a Comment